Metode Berbeda, IPM Indonesia Naik
JAKARTA -- 11/12: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana ada tiga dimensi yang dilihat dalam laporan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) The United Nations Development Programme (UNDP) ini.
Ketiga dimensi itu yakni ekspektasi tingkat hidup saat kelahiran yang merupakan indikator dari kesehatan dan harapan hidup. Kemudian kemampuan baca tulis orang dewasa yang menunjukan tingkat pengetahuan dan pendidikan.
Terakhir yakni tingkat kehidupan yang layak diukur dari pertumbuhan domestik procuct per kapita.
"Kita sambut baik perubahan metodologi ini, karena tidak hanya melihat dari sisi ekonom tapi juga pada pendidikan dan kesehatan," ujarnya di Jakarta, Jumat.
Indonesia menduduki peringkat 108 naik 3 peringkat dari sebelumnya 111 pada 2009. Meski mengalami kenaikan sayangnya Indonesia masih jauh berada dibawah Malasyia yang menduduki peringkat 57.
Dijelaskan oleh Armida dalam laporan kali ini Indonesia termasuk dari 10 negara yang selama empat puluh tahun terakhir mengalami peningkatan secara berkesinambungan. Baik dari sisi pendapatan maupun indikator indeks pembangunan manusia.
"Kita termasuk dari 10 negara yang secara konsisten melakukan achievment baik pendapatan maupun kaitannya dengan IPM itu," jelas Armida.
Armida menilai meski secara IPM Indonesia mengalami kenaikan tiga peringkat, dibandingkan dengan sebelumnya, namun hal itu tidak bisa dibandingkan. Pasalnya metode yang digunakan pada tahun ini berbeda dengan sebelumnya.
"Jadi baca data hati-hati ya, yang tahun lalu itu pake data lama tahun 2007. Lalu metodenya juga lama. Belum menggunakan metode terbaru seperti saat ini," ucapnya.
Ketika ditanya kenapa Indonesia lebih buruk dibandingkan dengan Malasyia dan Philipina?, Armida tidak menjawabnya secara tegas. "Anda jangan melihat datanya pada tahun ini saja, tapi lihat secara menyeluruh 40 tahun lihat seriesnya yang penting kita progres," ucapnya.
Sementara itu Director Information Centre UNDP Information Centre Jakarta Michele Zaccheo menambahkan supaya pembangunan Indonesia tidak hanya berfokus di wilayah barat, tetapi harus jugaada upaya serius termasuk bagaimana membangun Infrastruktur. Tentu saja dengan mengundang investor.
"Jadi antara satu pulau dengan yang lainnya ada suatu konektivitas," tambahnya. (roh)