|
KESRA—17 NOVEMBER: Pemerintah telah mengirimkan tim ahli ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat untuk menyelidiki kematian warga yang diduga mengonsumsi obat penyakit kaki gajah (filariasis).
Hal itu dikemukakan Menko Kesra Agung Laksono menjawab pertanyaan wartawan usai memimpin rapat koordinasi pemaparan program 100 hari departemen maupun lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK) di bawah koordinasi Kemenko Kesra, di Jakarta, Selasa (17/11). Hadir pada acara ini sejumlah menteri maupun pimpinan LPNK. Dalam kesempatan ini Menko Kesra membantah bahwa obat yang diberikan kepada para pasien kaki gajah sudah kedaluwarsa dan mutunya pun di bawah standar. “Itu tidak benar, bahkan Departemen Kesehatan sudah mengirim tim ahli ke sana untuk melakukan penelitian,” kata Agung Laksono. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Budihardja mengemukakan tim ahli dari Badan Kesehatan Dunia (WHO dan Departemen Kesehatan saat ini mencari data ke tempat warga serta sejumlah rumah sakit yang merawat warga setelah pengobatan masal anti kaki gajah pada 10 November lalu. Kunjungan itu diantaranya ke RSUD Majalaya, tempat yang paling banyak merawat pasien karena efek samping obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung tidak ikut menyelidiki karena rumah sakit, WHO, dan Depkes lebih berwenang. Penyakit kaki gajah sangat mengganggu aktivitas dan kehidupan keseharian seseorang, karena bagian tubuh membengkak, meskipun bila dilihat dari angka kematiannya sangat rendah Bila disuatu tempat ada penyakiut ini, maka dicari apakah orangh sekitar lingkungan tersebuit juga terkena, caranya dengan melakukan pemeriksaan darah. Memang pemeriksaannya tidak mudah karena harus dilukukan pada malam hari yang terkadang warga sudah tidur nyenyak. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dan cacing yang sangat kecil, dan keluarnya hanya tengah malam. ”Bila pnderitanya banyak bias dipastikan nyamuk maupun acing penularnya juga ada., sehingga orang tersebut harus diobati dan nyamuknya segera diberantas,” katanya. Delapan orang yang meninggal sesaat dan setelah masa pengobatan masal itu sejak beberapa waktu lalu. Dua orang meninggal sebelum meminum obat anti kaki gajah, diantaranya karena terjatuh dari pohon. Sedangkan enam orang lainnya dilaporkan sempat meminum obat itu. Dari hasil rontgen dan sampel darah pasien ketika sempat dirawat di RS Majalaya dan Soreang sebelum meninggal, mereka ternyata diketahui mengidap penyakit kronis seperti jantung dan darah tinggi. Gangguan itu selama ini hanya dirasakan dan ada juga yang tidak mengetahuinya sama sekali. Ketahuannya baru di rumah sakit. Petugas kesehatan di Kabupaten Bandung juga meluruskan berita bahwa seolah kematian itu karena dipicu efek samping obat. Padahal sesuai anjuran, pengidap penyakit kronis itu dilarang meminumnya, begitu juga untuk anak di bawah usia dua tahun, ibu hamil atau sedang menyusui, serta pasien diabetes. Penderita penyakit kronis, dibolehkan meminum obat asal kondisinya sedang baik. Kasus itu bisa dibilang kejadian ikutan pasca minum obat (KIPMO). Sejauh ini, jumlah peminum obat anti kaki gajah itu baru mencapai 70% dari 2,7 juta warga sasaran di seluruh kecamatan. Sedangkan yang sudah dirawat di sejumlah rumah sakit sudah mencapai sekitar 800 orang. Menurut Menko Kesra, keluhan warga paling banyak adalah mual, muntah, disertai pusing. Soal membludaknya pasien itu, menurut petugas kesehatan di Kabupaten Bandung, berarti sudah banyak warga yang selama ini mengidap cacing kaki gajah di tubuhnya dan kini mulai tersembuhkan. 318 kabupaten/kota Sampai September 2009 telah terpetakan sebanyak 318 kabupaten dan kota endemis filariasis dari 471 kabupaten dan kota, 94 kabupaten dan kota non-endemis dan 59 kabupaten dan kota masih abu-abu yang akan selesai dipetakan tahun 2009. Sehubungan dengan hal itu pada tahun 2009 ini dilakukan pengobatan filariasis di 98 kabupaten dan kota dengan sasaran 32 juta penduduk. ''Pengobatan tersebut dicanangkan 4 November 2009,'' kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof Tjandra Yoga Aditama. Jumlah kasus kronis filariasis dilaporkan secara kumulatif sebanyak 11.699 yang tersebar di 386 kabupaten dan kkota. Pada tahun ini telah dilakukan operasi pada penderita hidrokel sebanyak 36 kasus di Kabupaten Asmat, Papua atas bantuan MSF Belgian. Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit infeksi yang bersifat menahun disebabkan cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, kantong buah zakar, payudara dan kelamin wanita. Semua orang baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua dapat terserang penyakit ini. (H) |