|
KESRA-- 8 FEBRUARI: Menpora Andi Mallarangeng enggan menjawab dengan tegas ketika ditanya wartawan mengenai sikapnya terhadap bidding atau penawaran Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 seperti diajukan PSSI. Sementara itu ada pendapat lebih terhormat kalah saat bidding katimbang didiskualifikasi.
Seperti diketahui, batas waktu pengajuan proposal adalah Selasa 9 Februari 2010, dan salah satu syarat untuk bidding adalah dukungan dari pemerintah. "Perbaiki dulu prestasi sepak bola kita, kembalikan kejayaan sepak bola," katanya menjawab wartawan, Senin (8/2) sore di kantor Menpora Jakarta. Ketika didesak, apakah Menpora cenderung menolak atau mempersilakan proses bidding itu, Andi kembali tersenyum dan tidak menjawab tegas. "Pokoknya yang terpenting saat ini, yang menjadi prioritas adalah prestasi olahraga nasional," sahutnya. Andi mengimbuhkan, PSSI harus mampu membikin timnas sepak bola menjadi yang terbaik di Asia Tenggara dulu. Lalu prestasi ditingkatkan lagi, trus begitu, baru ngomongin tuan rumah Piala Dunia. Jadi, Bapak menolak bidding itu? "Saya tekankan, yang penting tingkatkan prestasinya dulu," sahutnya. Sebelumnya kepada Kompas, Andi mengaku prihatin melihat kegagalan timnas di SEA Games Laos. "Kok bisa kalah seperti itu. Apa yang salah. Karena itu, saya bilang pada Pak Nurdin Halid (Ketum PSSI), ayo kita sama-sama benahi sepak bola Indonesia, agar makin berprestasi," ujarnya. Lebih terhormat kalah saat bidding Terancam gagalnya bidding Indonesia untuk Piala Dunia 2022 membuat PSSI ketar-ketir. Oleh karenanya mereka berharap pemerintah memberikan dukungan untuk proyek yang satu ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, FIFA telah menyatakan akan mendiskualifikasi negara yang tak mendapatkan dukungan dari pemerintahnya. Malang bagi Indonesia, dukungan tersebut tak kunjung datang. Padahal deadline dari FIFA untuk surat dukungan tersebut jatuh pada 9 Februari besok.
Oleh Deputi Sekjen PSSI Dali Taher pemerintah dikatakan sudah melepas kesempatan untuk mengikuti bidding tersebut. Padahal FIFA sendiri sudah memastikan kalau PD 2022 bakal dihelat di Benua Asia.
"Tinggal Indonesia dan Australia yang berpeluang. Tapi, Australia tidak ingin head to head dengan kita karena mereka melihat Indonesia sebagai mitra strategis. Mereka lebih memilih menggandeng kita. Tapi, sekali lagi, tanpa surat garansi pemerintah, Indonesia sudah pasti didiskualifikasi sehingga tidak mungkin bekerja sama dengan Australia," urainya.
Terakhir Dali pun menganggap Indonesia memiliki sejumlah nilai jual untuk diterima biddingnya. Salah satunya Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang sangat besar. FIFA belum pernah mengadakan Piala Dunia di negara seperti Indonesia.
Wajar ia pun kemudian meminta pemerintah memberikan dukungan dan garansinya kepada PSSI. Jika kali ini gagal, maka Indonesia harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa mengikuti bidding ini lagi.
"Saya mengimbau pemerintah agar mendukung PSSI dan memberikan garansi. Jika kita tidak ikut sekarang, berarti Indonesia harus menunggu 20 tahun lagi jika ingin bidding."
"Saya membayangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menpora Andi Mallarangeng menjadi dua tokoh penting yang membawa Piala Dunia ke Indonesia. Ini bukan pesta PSSI melainkan pesta bangsa Indonesia," tambahnya seraya mengatakan lebih terhormat kalah saat bidding katimbang didiskualifikasi. |