|
Pembangunan kesejahteraan untuk seluruh rakyat keberhasilannya ditentukan
berbagai faktor dan bukan semata-mata karena tersedianya dana. Lingkup permasalahan
kesejahteraan dewasa ini semakin kompleks baik karena adanya faktor-faktor
struktur penduduk, maupun faktor-faktor yang ditumbuhkan oleh intervensi
dan inovasi pembangunan. Selanjutnya program kesejahteraan rakyat bukan
semata-mata untuk mengatasi dampak dari adanya bencana alam, kerusuhan (konflik
etnis/suku/agama), pelaksanaan otonomi daerah, masalah perbatasan dan disintegrasi.
Pada dasarnya pembangunan kesejahteraan rakyat haruslah ditujukan untuk
membangun kehidupan penduduk yang bermartabat, berkualitas secara berkelanjutan,
antara lain menyangkut akses penduduk khususnya penduduk miskin terhadap
pemenuhan hak dasar atas pangan, kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja,
perumahan, air bersih, pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup,
perlindungan hak atas tanah, rasa aman, serta kesempatan masyarakat untuk
berpartisipasi dalam program pembangunan. Selain itu pemenuhan hak dasar
penduduk dimaksud juga dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah yaitu
untuk percepatan pembangunan perdesaan, revitalisasi pembangunan perkotaan,
pengembangan kawasan pesisir serta percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan rakyat, masyarakat kita
mempunyai keanekaragaman geografi, budaya, sosial, agama dan ekonomi sehingga
apabila tidak dikelola dan diatur keterwakilannya secara proporsional, sinergis
dan emansipatoris dapat menjadi kendala di kemudian hari. Aspirasi masyarakat
dari negara maju terhadap isu-isu anti diskriminasi di berbagai bidang,
kesamaan persamaan hak, serta demokratisasi telah menjadi tuntutan masyarakat
global yang harus diakomodasi secara bijaksana.
Oleh karena itu dalam kemajuan kebudayaan yang semakin meningkat intensitas
dan ekstensitasnya karena proses globalisasi, maka penanganan solusi masalah
kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat haruslah berbasis kepada ilmu
pengetahuan dan pengembangan teknologi. Untuk itu pemilikan pengetahuan
dan kemampuan mengaplikasikan dalam urusan kehidupan sehari-hari secara
tepat dan benar melalui berbagai lembaga pendidikan dan mengoptimalkan pranata-pranata
sosial dan keagamaan perlu dilakukan untuk mengantisipasi kepentingan bangsa
kita di masa depan menjadi bangsa yang tangguh, yang berdiri sejajar dengan
bangsa-bangsa lain. Sedangkan untuk membangun kesejahteraan rakyat melalui
pemberdayaan potensi-potensi masyarakat, maka realitas kehidupan berbudaya
dan beragama masyarakat Indonesia di tingkat akar rumput perlu diberdayakan
dan didukung dengan upaya yang serius, sehingga menjadi lebih produktif
dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin, termasuk untuk mengurangi
kemiskinan agar tidak menjadi rawan untuk diprovokasi berbagai kepentingan
kelompok yang dapat menimbulkan konflik.
Dalam pembangunan kesejahteraan rakyat, berbagai upaya pemberdayaan masyarakat
dan peningkatan kualitas sumber daya manusia telah menunjukkan kemajuan-kemajuan
yang cukup berarti, tercermin dari membaiknya berbagai indikator kinerja
seperti pendidikan, kesehatan, dan pengendalian kelahiran, meskipun masih
banyak lagi kondisi yang harus diperbaiki dan ditingkatkan. Disamping perlu
terus diupayakan peningkatan kualitas penduduk dan persebarannya, masih
perlu ditingkatkan perhatian terhadap masalah-masalah ketenagakerjaan, pariwisata,
kesejahteraan sosial, kebudayaan dan agama, dalam kaitannya dengan peningkatan
kualitas hidup dan kapasitas sosial ekonomi kaum perempuan, anak dan generasi
muda.
Pemberdayaan perempuan merupakan salah satu agenda prioritas dan menjadi
salah satu kunci keberhasilan upaya-upaya pembangunan kesejahteraan rakyat
dan penanggulangan kemiskinan secara berkelanjutan, untuk itu perlu menjadi
perhatian dari seluruh komponen bangsa agar melaksanakannya secara sungguh-sungguh
guna kepentingan peningkatan kualitas dan kapasitas anak-anak dan generasi
muda. Berbagai ketimpangan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan masih
cukup banyak terjadi, sehingga dalam lima tahun ini perlu lebih digalakkan
upaya-upaya secara lintas sektoral untuk peningkatan gizi dan kesehatan,
pendidikan, kesempatan kerja, ketrampilan hidup, dan keolahragaan serta
partisipasi dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi.
Di samping itu, berbagai aspek yang tidak secara langsung melekat dengan
persoalan harkat dan martabat individu tetapi justru lebih mendasar lagi
adalah dukungan sarana dan prasarana untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Lingkungan
yang semakin banyak mengalami kerusakan, kebutuhan air bersih dan sanitasi
yang belum tercukupi, ketiadaan tanah bagi kepentingan hidup orang miskin,
kelangkaan perumahan dan permukiman sehat bagi masyarakat miskin, ketersediaan
jaringan dan sarana kesehatan, transportasi, pendidikan yang dapat dijangkau
oleh masyarakat di daerah perdesaan, kepulauan dan daerah terpencil merupakan
persoalan pembangunan yang tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan tersedianya
anggaran yang berlimpah, tetapi lebih dari itu memerlukan komitmen dan keseriusan
untuk memperhatikan berbagai kepentingan orang miskin. Karena itu, kebijakan
yang ”pro-poor” masih harus tetap dikembangkan dan diimplementasikan
secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-cita pembangunan kesejahteraan
rakyat. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah masalah di bidang
olah raga dan pemuda, dimana pada akhir-akhir ini prestasi di bidang olah
raga semakin menurun serta upaya untuk memberdayakan pemuda perlu di tingkatkan.
Dengan demikian tantangan atau kendala yang masih akan dihadapi dalam pembangunan
kesejahteraan rakyat sampai akhir tahun 2009 masih sangat banyak. Selain
persoalan keterbatasan anggaran pemerintah, jaringan dan kelembagaan sosial
yang ada di masyarakat masih cukup rentan sebagai akibat dari adanya perubahan
kondisi ekonomi dan sosial politik beberapa tahun terakhir. Beberapa kejadian
menunjukkan suatu kondisi yang nampak baik, tiba-tiba mengalami kejadian
yang menyebabkan statusnya menjadi buruk, seperti munculnya kejadian polio,
flu burung, malaria, busung lapar, demam berdarah, yang baru-baru ini terjadi
di masyarakat yang disebabkan antara lain lemahnya jaringan pelayanan kesehatan
masyarakat seperti tidak aktifnya kegiatan Posyandu, PKK, ketidaksiapan
aparat pemerintah, keterbatasan sarana dan prasarana.
Sangat penting diperhatikan adalah jaringan kelembagaan antar instansi
pemerintah yang terkesan belum cukup kondusif melaksanakan agenda-agenda
prioritas pembangunan, baik dalam koordinasi secara vertikal maupun horizontal.
Seringkali hal tersebut merupakan akibat dari berbagai kebijakan yang belum
selaras yang menyebabkan sikap aparat yang masih saling tarik ulur, tumpang
tindih, simpang siur, atau bertentangan, apalagi jika dikaitkan dengan tugas,
fungsi dan kewenangan antar kelembagaan di tingkat pusat dan daerah, seperti
antara Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan berbagai
instasi teknis dan Pemerintah Daerah yang dapat mengakibatkan koordinasi
perencanaan dan penyusunan kebijakan, sinkronisasi pelaksanaan kebijakan
belum dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Mengkoordinasikan perencanaan
dan penyusunan kebijakan, kemudian mensinkronkannya tidaklah semudah menyebutkan.
Berbagai program pembangunan yang diselenggarakan instansi teknis menunjukkan
bahwa di sana-sini masih terdapat kelemahan dalam koordinasinya sehingga
sering dalam pelaksanaannya terjadi tumpang tindih, belum terintegrasi,
masing-masing ingin menunjukkan keakuan atau menonjolkan sektornya. Faktor-faktor
yang menyebabkan adanya masalah tersebut antara lain adalah belum adanya
kesadaran bahwa hasil keseluruhan pembangunan mempunyai ketergantungan,
keterkaitan dengan hasil-hasil pembangunan lainnya, dan masih adanya sifat-sifat
pejabat yang ingin menonjol sendiri tanpa menyadari bahwa ”sebutir
beras adalah karya seribu orang”. Oleh karena itu untuk mengantisipsi
dan menghindari masalah-masalah tersebut, masing-masing unit kerja kedeputian
yang ada di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat harus melakukan
pendekatan-pendekatan yang intensif dengan departemen/kementerian/instansi
terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk membahas, mendiskusikan
rencana-rencana dan penyusunan kebijakan, sinkronisasi pelaksanaannya secara
konsisten dan berkelanjutan dalam kesejahteraan rakyat dan penanggulangan
kemiskinan.
Beberapa indikator menunjukkan masih rendahnya kesejahteraan rakyat serta
faktor-faktor yang memperburuk kondisi kesejahteraan rakyat, antara lain
dapat diungkap secara garis besarnya adalah :
- Tingkat pendapatan yang masih rendah;
- Pengangguran yang masih tinggi;
- Biaya hidup yang tinggi dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang
semakin sulit dipenuhi oleh masyarakat lapisan bawah;
- Kurangnya penghayatan, pengamalan, pengembangan nilai keagamaan;
- Kurangnya pemahaman etos berkarya;
- Lambatnya pembangunan sumber daya manusia;
- Lemahnya kapasitas dan kualitas sumber daya manusia termasuk aparatur
negara;
- Lemahnya daya dorong perekonomian;
- Tingginya kesenjangan antar daerah;
- Menurunnya penyediaan infrastruktur;
- Lemahnya kelembagaan sosial baik formal maupun non formal;
- Menipisnya sumber daya alam dan menurunnya daya dukung lingkungan;
- Gangguan keamanan, konflik sosial, dan bencana alam, serta kondisi
perekonomian yang masih belum stabil.
Dalam kaitannya dengan tugas dan fungsi Kementerian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat yang mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan,
sinkronisasi pelaksanaan kebijakan, dan pengendalian penyelenggaraan kebijakan,
pengawasan atas pelaksanaan, penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan
pertimbangan di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan
yang diselenggarakan oleh berbagai departemen/kementerian/instansi, maka
perlu penjabaran dalam suatu rencana strategis dalam pelaksanaan koordinasi
di bidang kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan.
Oleh karena itu diharapkan Rencana Strategis (Renstra) Pembangunan Jangka
Menengah Tahun 2004-2009 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan ini
dapat dijadikan sebagai acuan oleh semua pihak terkait dalam bekerja secara
sungguh-sungguh atas dasar konsepsi yang jelas dan berkesinambungan, sesuai
dengan visi, misi dan program pemerintah hasil Pemilihan Umum 2004 yang
dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) Tahun
2004 - 2009. Selanjutnya perlu disepakati oleh semua pihak pada umumnya
dan khususnya dengan departemen/kementerian/Instansi yang dikoordinasikan
mengenai variabel dan indikator keluaran kesejahteraan rakyat dan penanggulangan
kemiskinan.
|