|
JAKARTA, 7 Desember: Bank Dunia mencatat hampir 50% atau 100 juta penduduk Indonesia saat ini berpenghasilan di bawah US$2 atau kurang dari Rp18.000 per hari. Kondisi ini mencerminkan masih tingginya angka kemiskinan di Tanah Air.
Dalam laporan yang berjudul Making the New Indonesia Work for the Poor yang diterbitkan Kamis (7/12), Bank Dunia menilai, meski telah mengalami kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi, saat ini hampir separuh warga Indonesia terpaksa hidup miskin.
Menurut Bank Dunia, kondisi ini sudah terjadi sejak krisis moneter 1998 menghantam Indonesia. "Rahasia untuk mengurangi tingkat kemiskinan adalah dengan membantu warga miskin agar bisa berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Andrew Steer, Kamis.
Berdasarkan kajian Bank Dunia, banyak warga di Indonesia terperangkap dalam lingkaran kemiskinan secara turun-temurun. Warga miskin ini tidak mampu memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya, sehingga generasi berikutnya juga tidak bisa keluar dari kemiskinan.
"Saat ini, orang miskin tidak memiliki akses yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi. Dan 40% dari mereka, tidak dapat menyediakan pendidikan menengah sehingga kemiskinan diwariskan kepada generasi berikutnya," lanjut Steer.
Selain itu, Bank Dunia juga mencatat sebagian besar rakyat Indonesia yang taraf hidupnya sedikit di atas garis kemiskinan, rawan jatuh kembali ke dalam kemiskinan.
Bank Dunia berpendapat luasnya wilayah Indonesia justru menciptakan perbedaan pendapatan antarwilayah yang sangat besar, yaitu warga di satu wilayah telah mencapai taraf hidup negara maju, sedangkan warga di wilayah lain malah berada di bawah rata-rata negara berkembang.
Bank Dunia memberikan tiga rekomendasi agar bisa mengurangi tingkat kemiskinan, yaitu meningkatkan infrastruktur yang bisa mendukung revitalisasi pertanian, menciptakan jaringan kerja untuk memungkinkan warga miskin mendapatkan kemudahan akses ke perdagangan, dan yang terakhir adalah menyediakan kredit mikro bagi masyarakat miskin.
Steer mengungkapkan Bank Dunia akan mengalokasikan dana sebesar US$1 miliar dalam bentuk hibah dan pinjaman untuk program mengatasi kemiskinan. Dana sebesar itu rencananya akan digunakan untuk pendidikan, dan pembangunan infrastruktur desa tertinggal.
Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono dalam Konferensi Nasional Penanggulangan Kemiskinan di Jakarta, kemarin, menegaskan pemerintah akan mengarahkan pertumbuhan ekonomi sekecil apa pun untuk mengurangi kemiskinan di Tanah Air.
Sedangkan Menko Kesra Aburizal Bakrie mengungkapkan selama 2006 ini angka kemiskinan kembali meningkat menjadi 17,8% setelah penurunan sejak krisis tahun 1998. "Tantangan dalam jangka pendek adalah membalikkan tren tersebut guna mengejar sasaran penurunan kemiskinan hingga 8,5% pada 2009," katanya. (miol/broto) |