Oleh humas on June 25, 2014

Jakarta, 25 Juni - Puluhan anjing liar di Peken Gianyar di musnahkan dengan cara disuntik dengan cairan Lethal Varb oleh Dinas Peternakan Kabupaten Gianyar, Selasa (24/6/2014).
Hal tersebut sengaja dilakukan setelah banyaknya laporan dari warga yang mengaku resah oleh banyaknya anjing liar yang berkeliaran, sebagaimana dilansir laman Tribunnews.com.
"Di bawah lapak saya selalu ada anjing, diusir gak mau pergi. Telur dagangan saya selalu dimakan," ujar seorang pedagang Desak Made Artini.
Selain mengganggu berdagang, anjing tersebut juga dikhawatirkan terjangkit rabies.

Kasus Rabies Capai 18.507

Sementara itu Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat sebanyak 18.507 kasus Hewan Penular Rabies (HPR) sejak Januari hingga Mei 2014 yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Bali.
"Kasus gigitan anjing pada manusia sepanjang tahun 2014 mencapai angka 18.507 kasus yang tersebar di seluruh rumah sakit Kabupaten/Kota di Bali," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr Ketut Suarjaya, MPPM di Denpasar, Senin (9/6/2014).
Ia mengatakan, dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama rata-rata jumlah kasus gigitan anjing yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan mencapai 44.690 kasus.
"Dari jumlah kasus tersebut rata-rata pasien yang mendapatkan vaksin anti rabie mencapai 82 hingga 94 persen," ujarnya.
Untuk insiden kematian yang diakibatkan kerena HPR pada bulan Januari tercatat ada satu korban yang meninggal dunia.
"Korban meninggal akibat rabies tersebut berasal dari Desa Umajero, Kabupaten Buleleng, Bali," ujarnya.
Suarjaya mengatakan, Bali dikatakan terbebas dari kasus rabies apabila dua tahun berikutnya muncul kembali kasus positif rabies yang terhitung dari kasus terakhir.
"Artinya jika sampai Januari 2016 tidak ditemukan kasus positif maka target Bali Bebas rabies bisa tercapai," ujarnya.
Meski angka cakupannya tinggi, lanjut dia, akan tetapi menjadi kasus apabila seseorang yang tergigit anjing tersebut tidak mendapatkan VAR maka akan ditakutkan menjadi kasus positif rabies.
"Ada yang tidak mendapatkan VAR karena sudah mendapatkan suntikan sebelumnya saat tergigit. Namun, ada juga yang takut disuntik vaksin sehingga kasus inilah yang biasanya lahir kasus positif," ujarnya.
Ia mengharapkan agar masyarakat yang tergigit anjing segera mungkin membersihkan luka gigitan tersebut kemudian berobat ke rumah sakit agar mendapatkan suntikan vaksin untuk pencegahan penularan rabies.

Minahasa Masuk Kategori Endemik Rabies

SedangkanTingginya kasus rabies yang terjadi membuat Kabupaten Minahasa masuk kategori daerah endemik penyakit rabies.Pihak Dinas Kesehatan tak bisa bergerak sendiri untuk menanggulanginya.

"Harus lintas sektor. Pencegahan dilakukan oleh Dinas peternakan berupa suntikan baksin pencegah. Kami hanya menindak kasus yang telah menyerang manusia, " ujar Kepala Dinas Kesehatan, Yuliana Kaunang, Selasa (3/6/2014).

Data yang tercatat di Dinas Kesehatan Pemkab Minahasa, pada tahun 2013 tercatat ada 499 kasus gigitan hewan rabies dan tujuh orang meninggal. Serta data terakhir tahun 2014, tercatat sebanyak 188 kasus yang terjadi, dan satu orang meninggal.

"Kasus di Minahasa memang banyak, makanya masuk daerah endemik rabies," jelasnya.

Dikatakannya, masyarakat yang terdaftar di Jamkesmas atau sekarang disebut BPJS kesehatan, bisa mendapat suntikan gratis jika telah terserang rabies. Namun jika stok vaksin masih ada.

"Tahun 2013 lalu kami punya 1000 stok vaksin untuk 250 orang," tuturnya.

Ia menjelaskan, ciri-ciri orang yang terkena virus mematikan tersebut yakni panas, sakit kepala, lemas, berair liur, takut air dan teriak-teriak.

"Orang yang terkena rabies CSR 100 persen mati pasti meninggal. Perjalanan virus ini menyerang susunan saraf pusat," terangnya.

Kaunang menyarankan, masyarakat yamg terkena gigitan atau cakaran hewan pembawa rabies berupa anjing dan kucing, lukanya agar dicuci dengan sabun.

Bukan seperti kebanyakan dilakukan orang yang menaruh lemon atau cuka. Lalu disiram air mengalir 10 - 15 menit.

"Untuk hewannya, dijaga dan diberi makan dengan baik. Diikat selama 14 hari. Jika tak mati berarti aman. Tapi jika mati, potong kepala si hewan dan periksa lab. Jika positif, berarti harus disuntik (orang yang digigit anjing tadi), " terang Kaunang.

Sebelumnya, pihak Dinas Peternakan dalam hal ini Kepala Seksi Pengamanan Ternak dan Bahan Hasil Ternak, Ferri Moningtja mengatakan jika ditemui kasus rabies, diharapkan agar segera melapor ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pemkab Minahasa yang berlokasi di Sasaran Tondano.

"Masyarakat melapor dulu ke Kumtua atau Lurah setempat, dari mereka baru ke kami. Makanya butuh sikap pro aktif pemerintah setempat. Ini dilakukan agar koordinasi terkalin dengan baik, serta proses vaksinasi berjalan dengan baik, " ungkapnya.

Ia menambahkan pihaknya punya jadwal sendiri untuk melakukan vaksin, tapi jika terjadi kasus, di wilayah tersebut akan diprioritaskan terlebih dahulu.(Tn/Gs).

 

Categories: